Laporan
Cara Membaca Laporan Laba Rugi di Alur
Diperbarui
Laporan Laba Rugi di Alur menampilkan Omzet dikurangi harga pokok penjualan (menghasilkan laba kotor), lalu dikurangi biaya operasional (menghasilkan laba bersih). Semua angka ini dihitung otomatis dari transaksi yang sudah Anda catat, tanpa perlu hitung manual.
Apa saja yang ditampilkan di laporan Laba Rugi Alur?
Laporan Laba Rugi menunjukkan empat angka utama untuk periode yang Anda pilih (misalnya bulan ini):
- Omzet — total seluruh penjualan, tunai maupun kredit.
- Harga pokok penjualan (HPP) — total harga beli barang yang terjual pada periode itu.
- Laba kotor — omzet dikurangi harga pokok penjualan.
- Laba bersih — laba kotor dikurangi biaya operasional usaha (seperti listrik toko, sewa, atau gaji karyawan).
Semua angka ini dihitung otomatis dari transaksi yang sudah Anda catat sehari-hari — Anda tidak perlu menghitung manual sama sekali.

Bagaimana cara Alur menghitung angka-angka ini?
Rumusnya:
Omzet = seluruh penjualan (tunai + kredit)
Laba kotor = Omzet − total harga pokok penjualan
Laba bersih = Laba kotor − biaya operasional usaha
Contoh sederhana: bulan ini omzet warung Bu Rahma Rp 12.000.000. Harga pokok barang yang terjual Rp 8.000.000. Biaya operasional (listrik, plastik, transport kulakan) Rp 1.200.000.
- Laba kotor = Rp 12.000.000 − Rp 8.000.000 = Rp 4.000.000
- Laba bersih = Rp 4.000.000 − Rp 1.200.000 = Rp 2.800.000
Angka Rp 2.800.000 inilah yang menggambarkan untung sesungguhnya dari usaha Bu Rahma bulan itu.
Kenapa laba bersih beda dengan saldo kas?
Ini pertanyaan yang paling sering muncul. Laba bersih murni mengukur hasil usaha: jualan dikurangi harga pokok dan biaya. Saldo kas dipengaruhi hal lain juga — misalnya modal yang disetor, prive yang diambil, dan piutang pelanggan yang belum dibayar.
Rumus saldo kas:
Saldo kas = saldo awal + kas kumulatif (dari transaksi yang statusnya sudah dibayar)
Jadi bisa saja laba bersih bulan ini besar, tapi kas tipis karena banyak penjualan masih berupa piutang yang belum ditagih. Sebaliknya, kas bisa terlihat banyak padahal laba kecil, misalnya karena baru saja ada setoran modal tambahan. Baca lebih lanjut soal ini di beda uang masuk dan omzet.
Kenapa penting memeriksa laporan ini secara rutin?
Tanpa laporan ini, pemilik warung biasanya cuma menilai usahanya dari “kelihatannya rame” atau “kayaknya untung” — padahal itu perasaan, bukan angka. Laporan Laba Rugi memberi jawaban pasti: benar untung berapa, dan dari mana untung atau ruginya berasal (harga pokok terlalu tinggi, atau biaya operasional membengkak).
Cek laporan ini minimal sebulan sekali, idealnya setiap kali mau mengunci periode bulan berjalan. Kalau laba bersih lebih kecil dari perkiraan, telusuri dulu apakah harga pokok penjualan naik (kulakan lebih mahal dari sebelumnya) atau biaya operasional yang membengkak.
Apa hubungan laporan ini dengan pajak?
Pajak final UMKM dihitung dari omzet, bukan dari laba bersih. Jadi walau laporan ini fokus ke laba, angka Omzet di bagian atas laporan yang sama juga menjadi dasar perhitungan pajak Anda. Baca lengkapnya di pajak UMKM PP 55/2022.
Apa yang harus dilakukan kalau laba bersih ternyata minus (rugi)?
Jangan panik dulu, tapi jangan diabaikan juga. Cek dulu apakah bulan itu memang ada kejadian tidak biasa — misalnya kulakan besar-besaran untuk stok bulan depan yang belum sempat terjual semua, atau biaya operasional yang memang sedang tinggi (misalnya perbaikan etalase). Kalau polanya berulang tiap bulan, itu tanda serius bahwa harga jual Anda terlalu tipis dibanding harga pokok, atau biaya operasional sudah tidak sebanding dengan omzet yang dihasilkan — saatnya meninjau ulang harga jual atau efisiensi belanja kulakan.